Kiat Sukses dalam Budidaya Sapi Madura, Poil Belitang Punya Solusi


Kiat Sukses Dalam Budidaya Sapi Madura, Poil Belitang Punya Solusi

Sapi Madura adalah hasil pencampuran berbagai jenis sapi potong, yaitu sapi Bali (Bos sondaicus) dan Zebu (Bos indicus). Jantan yang telah dimasukkan ke Pulau Madura termasuk Bos taurus, termasuk Red Denis, Santa Gertrudis dan jantan yang melintasi antara Shorthorn dan Brahman, yang semuanya memiliki warna merah-coklat. 

Sapi Madura adalah jenis kecil sapi potong yang merupakan salah satu plasma nutfah sapi potong asli dan rentan di lingkungan agroekosistem kering dan berkembang dengan baik di pulau Madura. Masalah ini menunjukkan penurunan produktivitas karena seleksi negatif, yaitu sapi potong produktif/penampilan bagus, faktor kawin sedarah yang disebabkan oleh kenyataan bahwa pulau Madura merupakan area tertutup untuk sapi potong lainnya.

Kemampuan produktivitas sapi Madura yang telah tumbuh dan berkembang dengan baik di lingkungan lahan kering relatif tahan terhadap penyakit dan kesesuaian selera masyarakat. Keragaman genetik sapi Madura cukup beragam dan memiliki kisaran berat 300 kg dan dalam mempertahankan kondisi yang baik untuk ras yang mampu mencapai 500 kg, dan memiliki persentase karkas hingga 60%, efisiensi reproduksi cukup rendah, selain itu Sapi Madura memiliki nilai sosial budaya yang digunakan atau diperebutkan sebagai sapi Karapan dan sapi Sonok (tampilan).

Ukuran yang lebih kecil dari hewan atau sapi kurban terkait erat dengan kenaikan terus menerus harga sapi lokal dari tahun ke tahun. Jika sebelumnya dengan anggaran 12 juta, kami mendapat sapi kurban kecil, sekarang untuk mendapatkan sapi kurban dengan ukuran yang sama, anggaran harus di atas 14 juta. Ini adalah salah satu kelebihan sapi kurban yang sangat populer ketika mendekati Idul Adha.

Keunggulan lain dari sapi Madura memiliki tulang yang kecil sehingga dari segi persentase daging atau hasil daging sangat baik. Kualitas daging sapi Madura jantan juga super dengan warna merah cerah dan sedikit gemuk dan bahkan bisa dikatakan ramping alias tanpa lemak.

Sapi Madura juga merupakan jenis ternak yang tahan terhadap kondisi cuaca panas dan juga memiliki adaptasi pakan yang baik bahkan dengan jenis pakan yang buruk.

Dengan berbagai keunggulan ini, maka layak jika sapi Madura harus dikembangkan lebih lanjut dan diterapkan baik di pulau Madura sebagai asal usul sapi maupun daerah lain.

Dalam banyak literatur ternak, sapi Madura dikenal sebagai salah satu negara sapi tropis dunia, keduanya berkembang di pulau Madura dan sekitarnya. Populasi sapi Madura mencapai lebih dari 600.000, menjadikan pulau Madura sebuah pulau dengan kepadatan sapi tertinggi di dunia.

Tercatat dalam sejarah, Kongres dokter hewan Indonesia dan ahli peternakan di Pamekasan pada tahun l925 menghasilkan keputusan yang menjadi cikal bakal para Stable No.57 pada tahun l934 yang mengatur di antara mereka pemurnian sapi Madura di Pulau Madura dan sapi Bali.

Revisi Staatblad No.57 tahun l934 dengan UU No.6 l976 tentang prinsip-prinsip peternakan dan kesehatan hewan dan akhirnya direvisi lagi dengan UU No. l'8 2009 tentang Kesehatan Hewan dan Peternakan masih memasukkan artikel Pemurnian sapi Madura pada Pulau Madura, artinya kebijakan memurnikan sapi Madura sebagai kekayaan plasma nutfah dipertahankan. Ini juga diperkuat oleh Keputusan Menteri Pertanian Nomor: 3735/kpts/Hk. 040/11/2010 tanggal 23 November 2010, penentuan sapi Madura sebagai keluarga sapi lokal Indonesia.

Sapi Madura Dengan SNI 

Seperti dikutip dari Trobos.com, sebanyak 17% sapi Madura yang mengikuti tes kinerja lulus SNI dan diberi SKLB (Sertifikat Layak). Tes kinerja 2015 membuktikan kelayakan sapi Madura untuk dikembangkan.

Kepala Unit Pembibitan Ternak dan Keswan Madura, Indra Subekti mencatat bahwa pada 2015 tidak kurang dari 16 kelompok ternak telah ditargetkan untuk pengujian kinerja. Dari 16 kelompok, lebih dari 800 ekor sapi telah diukur dan dicatat dalam setahun. Di daratan Madura, tidak kurang dari 560-dan kami telah mengukur ekor dan sekitar 35% dari mereka menerbitkan SKLB.

Pada tahun 2014, kata Indra, pengukuran dan pencatatan Sapi Madura dilakukan di Pulau Sapudi, yang menjadi pusat area pengembangbiakan Sapi Madura dan di daratan Madura. Di Pulau Sapudi 2.211 sapi Madura diukur.

Menurut Indra, tes kinerja massal sebenarnya sudah dilakukan sejak 2010. Dia mengatakan saat itu lebih dari 5.000 ekor sapi telah dimasukkan dalam tes.

Data lengkap, sehingga kita bisa menggunakannya untuk memajukan kebijakan pengembangan Sapi Madura.

Uji kinerja adalah upaya kualitas genetik hewan dengan memilih hewan berdasarkan karakteristik kualitatif dan kuantitatif. Kegiatan uji kinerja ini terkait erat dengan kegiatan pengukuran dan pencatatan ternak.

Pengembangan kerja sama Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pusat Pembibitan Ternak untuk Pakan Ternak dan Pakan Ternak (BPTU HPT) Pelaihari dan UPT Pemuliaan dan Kesehatan Hewan Madura yang dimiliki oleh Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur menyusun sejumlah langkah untuk mengembangkan Sapi Madura.

Kerjasama antara kedua lembaga pemerintah tersebut adalah dalam bentuk pemilihan sapi Madura unggul, yang hasilnya akan diakomodasi oleh BPTU HPT dan akan dikembangkan sebagai calon jantan atau induk. Pemilihan sapi unggul dilakukan di UPT dan Grup Ternak, bukan di pasar hewan.

Selain itu, UPT juga membahas pertukaran Pengendalian Benih Ternak (Wasbitnak) antara kedua UPT, sehingga semua pihak saling bertanggung jawab atas pengembangan sapi Madura.

Tohir, Kepala BPTU HPT Pelaihari mengatakan bahwa sinergi antara kedua UPT tersebut dilakukan untuk meningkatkan populasi dan produktivitas sapi Madura.

Sinergi antara dua UPT milik pemerintah yang terlibat dalam pengembangbiakan sapi Madura sangat penting dan perlu terus diupayakan. Kita harus bersama-sama bertanggung jawab untuk pengembangan Sapi Madura, saat mengunjungi Kelompok Ternak Aljannah Bluto-Sumenep.


Kiat Sukses dalam Budidaya Sapi Madura, Poil Belitang Punya Solusi


No comments: